Wali kelas merupakan tugas tambahan seorang guru di sekolah. Biasanya setiap mengawali tahun pelajaran, kepala sekolah sebagai pimpinan akan memberikan tugas tambahan kepada guru tertentu untuk menjadi wali kelas. setiap kepala sekolah pasti mempunyai alasan dan/atau penilaian tersendiri yang menjadi dasar dalam memberi kepercayaan tugas kepada guru untuk menjadi wali kelas.
Bagi guru yang sudah lama mengabdi dan sudah terlalu sering menjadi wali kelas, tentunya akan merasa biasa-biasa saja. Tapi bagi yang baru pertama kali diberi kesempatan untuk menjadi wali kelas tentu perasaan bercampur aduk. Antara senang dan khawatir. Semua perasaan itu manusiawi. Ya wajar saja namanya juga pengalaman pertama.
Akan muncul banyak pertanyaan dalam pikirnya. apakah saya sanggup? apa saya mampu menjadi wali kelas yang baik? apa yang harus saya lakukan saat mereka buat masalah? apa saya mampu mengatasi persoalan itu? apa yang harus saya katakan saat memanggil orangtua mereka ke sekolah? dan masih banyak pertanyaan lainnya. Sehingga tidak jarang ada guru yang mengajukan keberatan dan menolak untuk menjadi wali kelas.
Menurut saya, menjadi wali kelas tentunya menjadi sebuah kebanggan. Soal mampu dan tidaknya ya namanya juga dalam tahap belajar.
Dari banyaknya rasa bangga yang ada, satu yang membuat saya secara pribadi selalu bersemangat, yaitu nama, gelar, dan tanda tangan saya tertulis manis di laporan pendidikan (rapor).
Menjadi wali kelas tentu memiliki tugas tertentu yang berbeda dengan guru mata pelajaran. Berdasarkan pengalaman pribadi, sesuai dengan apa yang saya rasakan, saya mengelompokkan tugas wali kelas dalam kategori tugas standar, dan tugas luar biasa. kelompok ini saya bagi berdasarkan tingkatan kesulitan yang memiliki pengaruh besar merujuk berhasil tidaknya menjadi seorang wali kelas.
1. Tugas Standar
Tugas standar yaitu hal-hal administrasi kelas yang harus dikelola oleh wali kelas. yaitu:
- Membuat daftar hadir kelas
- Membuat struktur organisasi kelas
- Membuat jadwal piket kelas
- Merancang peraturan kelas
- Mengisi laporan pendidikan, dll
Intinya tugas pokok wali kelas di atas menurut saya standar, karena dikerjakan dalam satu waktu, tidak membutuhkan skill khusus, dan setiap guru yang menjadi wali kelas tentu mampu melakukannya. Bersifat di atas kertas, sekali kerja dan digunakan hingga tahun pelajaran berakhir.
2. Tugas Luar Biasa
Tugas luar biasa lebih merujuk pada kemampuan wali kelas dalam mengontrol, mengelola dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi. Seperti siswa yang sering alpa, bolos, atau ada kelakuan tidak disiplin lainnya.
Terdengar sederhana, tapi dalam pelaksanaannya tidaklah sesederhana itu.
Saya katakan sebagai tugas luar biasa karena sangatlah menguras pikiran dan waktu, butuh tenaga yang ekstra, kesabaran, dan ketekunan.
Bukanlah perkara yang gampang, menghadapi sekian anak dengan karakter yang berbeda tentu membutuhkan teknik tersendiri.
Kemampuan bersosialisasi, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan memberi pembinaan dan pengarahan pada kondisi tertentu, Ini menjadi poin penting yang harus disadari oleh seorang wali kelas.
Dalam tugasnya, tidak sedikit wali kelas yang gagal karena masih menggunakan sistem otoriter. Menggunakan kekuasaan, hanya mengandalkan kata-kata ancaman akan ini, akan itu lah. Hal ini tidak akan memberikan perubahan yang berarti. Kalau pun ada, itu hanya atas dasar rasa takut. Bukan atas kesadaran. Tentu perubahan itu tidak akan bertahan lama.
Harus bisa membangun hubungan kedekatan yang baik dengan siswa, orangtua, dan keluarganya. Ini bertujuan untuk mengenal karakter anak. Ketika anak merasa adanya hubungan yang dekat, mereka akan cenderung mendengar dan melakukan apa yang kita minta dengan senang hati.
Harus mampu memberi perhatian lebih, membimbing, mengarahkan anak untuk bagaimana mau belajar dengan lebih sungguh-sungguh. Memberikan motivasi kepada anak untuk terus berprestasi. Tidak saja mengandalkan kemampuan berpikir sebagai seorang akademik, tapi juga melibatkan perasaan. Inti dari semuanya itu adalah jangan pernah merasa putus asa terhadap mereka.
Apa yang sudah saya sampaikan di atas hanyalah sebagian kecil dari pengalaman yang dapat saya tulis.
Tugas-tugas itu akan membawa kita untuk kembali melihat, dan sejenak merenung penggalan judul bacaan ini. "Wali kelas= manjadi Single parent untuk bukan anak kandung, juga bukan anak tiri".
Saya memaknai wali kelas sebagai single parent ( orangtua tunggal) karena yang namanya wali kelas ya cuma satu.
"bukan anak kandung, juga bukan anak tiri" berarti jangan memanjakan mereka seperti anak kandung, juga jangan perlakukan mereka seperti anak tiri.
Semoga kita bisa menjadi wali kelas, menjadi single parent yang dapat membawa perubahan bagi anak didik kita.
Kolana, 16 Oktober 2021
Saya pernah mengalami menjadi wali kelas. Awalnya susah, tapi setelah lama kelamaan menjadi kesukaan.
ReplyDeleteTerimakasih k yoman sudah mau membaca. Smoga bermanfaat
DeleteMantap Guru.
ReplyDeleteTetap Semangat utk menulis, Salam Literasi😊
Terimakasih sudah membaca dan tinggalkan komentar. Semoga bermafaat
DeleteSo proud of you 🖤
ReplyDelete